Kamu nggak butuh website buat mulai. Kamu butuh etalase yang ada harganya, order yang masuk sudah rapi, dan cara bayar yang benar-benar dipercaya pembeli.
Sailo team10 menit baca
"Ini masih ada kak?" masuk jam 22.40. Kamu balas jam 06.15 besok paginya. Orangnya udah nggak bales.
Itu bukan masalah website. Itu masalah harga yang nggak kelihatan sampai orang harus nanya, dan order yang tenggelam di antara empat puluh chat lain.
Kamu nggak butuh website untuk mulai jualan online. Yang kamu butuh cuma tiga: satu tempat orang bisa lihat barang dan harganya tanpa bertanya, satu cara order masuk lengkap tanpa kamu scroll chat, dan satu cara bayar yang pembeli percaya. Website itu salah satu cara memenuhi ketiganya. Bukan satu-satunya, dan buat orderan di bawah lima puluh per bulan, biasanya bukan yang paling murah juga.
Dewi jual sambal kemasan di Bandung, Rp 35.000 per botol. Dia mulai dari album WhatsApp dan catatan di buku tulis. Bulan keempat dia sudah 60 order sebulan dan masih belum punya website. Yang berubah bukan platformnya. Yang berubah cara dia menaruh harga dan cara dia mencatat pesanan.
Urutannya penting karena tiap tahap membuang orang.
Kesalahan paling umum orang baru: mulai dari nomor tiga. Bikin akun payment gateway, ribet verifikasi, padahal belum ada yang tanya. Kesalahan kedua: berhenti di nomor satu. Foto rapi, caption bagus, harga "cek DM".
"Cek DM" itu bukan strategi. Itu tagihan waktu yang kamu bayar sendiri, sepuluh kali sehari, ke orang yang delapan di antaranya cuma iseng.
Etalase pertamamu boleh gratis dan boleh jelek. Yang nggak boleh: nggak ada harganya.
Pilihan yang realistis, dari yang paling murah:
| Etalase | Kekuatan | Kelemahan |
|---|---|---|
| Katalog WhatsApp Business | Ada di tempat pembeli sudah berada | Susah dibagikan ke luar WhatsApp |
| Highlight Instagram | Cepat dibuat, cocok untuk stok yang berubah | Harga ketutup, urutan berantakan setelah 15 item |
| Feed Instagram | Bagus untuk ditemukan orang baru | Postingan lama tenggelam, harga jadi nggak valid |
| Link katalog sendiri | Satu link, harga selalu terbaru | Nggak ada yang datang sendiri ke situ |
| Marketplace | Pembelinya sudah ada di dalam | Kamu bersaing harga di halaman yang sama |
Baris terakhir itu keputusan besar tersendiri, dan jawabannya bukan salah satu. Perbandingan jualan di marketplace atau toko sendiri membahas kapan masing-masing menang, termasuk kenapa banyak penjual akhirnya pakai keduanya untuk pekerjaan yang berbeda.
Yang bikin etalase bekerja bukan desainnya. Foto yang jelas, nama barang yang bisa dicari, harga yang benar. Itu saja. Cara foto produk pakai HP menjelaskan kenapa foto di lantai dekat jendela mengalahkan foto studio yang gelap, dan kenapa foto kedua lebih menentukan daripada foto pertama.
Di Indonesia, transaksi selesai di WhatsApp. Bukan di keranjang, bukan di checkout. Di chat.
Masalahnya bukan WhatsApp-nya. Masalahnya order yang datang setengah jadi:
"Kak mau yang itu"
Lalu tujuh chat berikutnya kamu habiskan untuk menggali: yang mana, ukuran apa, alamatnya, totalnya berapa, ongkir ke Bekasi berapa. Tiga puluh order sebulan dikali tujuh chat sama dengan 210 percakapan yang isinya sama semua.
Yang harus kamu ubah: bikin pesan pertama sudah lengkap. Idealnya pembeli klik satu tombol di etalase, lalu chat kebuka dengan isi sudah tertulis, nama barang, varian yang dia pilih, alamat, total. Di Sailo, tombol WhatsApp bekerja begitu, pesannya datang sudah jadi. Kalau kamu masih pakai cara manual, format template dan tempel ulang tiap kali juga berhasil, cuma kamu yang mengetiknya.
Panduan jualan lewat WhatsApp masuk lebih dalam ke bagian ini: label chat, cara nutup tanpa maksa, dan jam berapa sebaiknya kamu berhenti bales.
Ini bagian yang paling sering dijelaskan salah oleh artikel jualan online, karena penulisnya nggak pernah kirim paket COD ke Cimahi.
Kenyataannya begini. Pembeli baru, yang belum pernah beli dari kamu, sebagian besar minta COD. Bukan karena mereka nggak punya e-wallet. Karena mereka belum percaya kamu. Pembeli yang sudah pernah beli sekali biasanya langsung transfer atau kirim DANA, karena bayar di muka itu lebih cepat buat mereka juga.
Jadi cara bayarmu bukan satu. Minimal dua:
Sekarang bagian yang harus jujur, dan ini batasan nyata bukan basa-basi.
Sailo punya delapan cara bayar: kartu, WhatsApp, Telegram, Instagram, email, telepon, transfer bank, dan COD. Itu daftar lengkapnya. Nggak ada rail DANA, OVO, GoPay, atau QRIS. Yang bisa kamu lakukan: tulis nomor DANA atau nomor rekeningmu di kolom instruksi pada metode transfer bank, kolom teks bebas yang muncul ke pembeli setelah dia order. Itu akal-akalan, bukan fitur. Sailo nggak tahu uangnya masuk. Kamu yang buka m-banking, lihat mutasi, lalu tandai pesanan itu lunas sendiri.
Kartu juga punya syarat yang perlu kamu tahu sebelum bayar apa pun. Kartu butuh akun Stripe milikmu yang sudah disetujui Stripe untuk menerima pembayaran. Dan ini bagian pentingnya: Stripe mencantumkan Indonesia sebagai "preview", artinya undangan, bukan pendaftaran terbuka. Jadi tombol kartu bisa saja tetap nggak tersedia buat kamu, berapa pun paket yang kamu bayar. Kalau kamu berpikir "oke nanti upgrade biar bisa terima kartu", jangan berpikir begitu dulu. Cek dulu apakah kamu bisa buka akun Stripe sama sekali.
Kalau kartunya jalan, komisinya 1–3% dari nilai barang setelah diskon, di luar ongkir dan pajak, dan uangnya masuk ke akun Stripe-mu sendiri, bukan ke Sailo. Untuk semua jalur manual, COD, transfer, WhatsApp, Instagram, Telegram, email, telepon, Sailo nggak menyentuh uangnya dan nggak ambil apa pun.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Ongkir adalah tempat paling umum penjual kecil kehilangan margin tanpa sadar. Bukan karena salah hitung sekali. Karena salah tebak lima puluh kali berturut-turut.
Bentuk masalahnya: ekspedisi menagih berdasarkan yang lebih besar antara berat asli dan berat volume, dan berat volume dihitung dari dimensi kardus, bukan dari isinya. Barang ringan yang makan tempat, bantal, tanaman, keripik, adalah yang paling sering rugi. Tarif dan pembaginya beda tiap ekspedisi dan berubah, jadi jangan pakai angka dari blog mana pun termasuk yang ini. Minta daftar tarifnya langsung ke ekspedisi yang kamu pakai. Cara hitung ongkir menjelaskan cara menghitungnya dan cara memilih antara ongkir per zona, tarif flat, atau gratis ongkir di atas nominal tertentu.
Satu hal soal alat: di Sailo kamu yang mengetik angka ongkirnya. Kamu bikin opsi pengiriman, kasih nama seperti "Reguler" atau "Ambil di tempat", isi tarifnya, dan boleh set batas gratis ongkir di atas nominal tertentu. Sailo nggak menarik tarif langsung dari ekspedisi dan nggak tahu resimu ada di mana. Kalau kamu butuh tarif otomatis yang berubah per kecamatan, itu pekerjaan lain dan biasanya artinya kamu sudah cukup besar untuk beli alat khusus.
Angka-angka ini yang bikin bagian sebelumnya masuk akal.
Dewi jual sambal Rp 35.000 per botol. Modal bahan dan botol Rp 14.000. Kardus, bubble wrap, dan lakban Rp 3.000 per paket. Sisa kotor Rp 18.000 sebelum ongkir dan sebelum waktunya sendiri.
Minggu itu masuk 11 order. Rinciannya:
| Jenis | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| COD, dalam kota Bandung | 4 | Semuanya diterima |
| COD, luar kota | 3 | Satu ditolak di depan pintu |
| Transfer bank | 2 | Keduanya pembeli ulang |
| DANA | 2 | Dia tulis nomornya di instruksi order |
Yang satu ditolak itu ke Cirebon. Dua botol, Rp 70.000. Paket balik ke Dewi, dan dia bayar ongkir dua arah untuk barang yang nggak jadi dibeli. Sambalnya masih bagus, kardusnya nggak. Kerugian bersih hari itu sekitar Rp 40.000, tergantung tarif retur yang dia kena.
Setelah kejadian itu dia ubah satu hal, dan cuma satu. COD tetap dibuka, tapi untuk luar kota dia telepon dulu, bukan chat, sebelum barangnya diserahkan ke ekspedisi. Bukan konfirmasi lewat WhatsApp yang bisa dibaca sambil ngantuk. Telepon. Delapan detik. "Halo Bu, pesanan sambal dua botol ya, Rp 70.000 plus ongkir, dikirim hari ini." Penolakan luar kotanya turun dari tiga per bulan jadi satu dalam tiga bulan berikutnya.
Itu bukan trik marketing. Itu satu-satunya cara yang murah untuk tahu apakah orang di ujung sana benar-benar niat.
Daftar ini akan menghemat waktumu lebih banyak daripada bagian mana pun di atas.
Belum butuh: nama domain. Domain nggak mendatangkan pembeli. Yang mendatangkan pembeli adalah postingan, mulut ke mulut, dan orang yang pernah beli. Beli domain kalau kamu sudah punya alasan spesifik, misalnya mau cetak di kemasan.
Belum butuh: payment gateway. Kalau order kamu masih di bawah dua puluh sebulan, waktu yang kamu habiskan untuk verifikasi dokumen lebih mahal daripada capek mencatat manual. Transfer dan COD sudah cukup.
Belum butuh: badan usaha, sampai titik tertentu. Aturan izin dan pajak untuk penjual online di Indonesia berubah dan tergantung skala serta jenis barangnya. Jangan pakai angka dari artikel, termasuk artikel ini. Kalau kamu mulai jual makanan, kosmetik, atau suplemen, itu punya aturan sendiri dan sebaiknya kamu cek ke instansi terkait sejak awal, bukan setelah ada yang komplain.
Belum butuh: 40 produk. Sepuluh produk yang kamu tahu untung berapa jauh lebih mudah dikelola daripada empat puluh yang kamu nggak yakin. Paket gratis Sailo dibatasi 10 produk, dan buat sebagian besar orang yang baru mulai, batas itu belum terasa selama beberapa bulan.
Ada empat tanda. Kalau nggak ada satu pun, tetap di setup sekarang.
Di luar itu, satu link yang isinya katalog dan tombol pesan sudah mengerjakan pekerjaan yang sama. Sailo memberimu link seperti itu, sailo.store/namakamu, aktif sejak kamu daftar. Yang perlu kamu ingat: link itu nggak mendatangkan siapa-siapa dengan sendirinya. Nggak ada trafik di dalamnya. Trafiknya tetap datang dari kerjaanmu di Instagram, TikTok, grup WhatsApp, atau dari pelanggan yang cerita ke temannya. Cara dapat pembeli pertama online membahas dari mana lima order pertama biasanya benar-benar datang, dan jawabannya jarang dari iklan.
Ini bagian yang nggak ada di panduan mana pun sampai kamu mengalaminya sendiri.
Suatu hari resi berhenti bergerak selama enam hari. Pembeli mulai chat tiap pagi. Kamu nggak tahu apa-apa, karena kamu punya informasi yang persis sama dengan dia, yaitu halaman tracking yang sama.
Yang menentukan hasilnya bukan siapa yang benar. Yang menentukan adalah apakah kamu punya bukti serah terima ke ekspedisi, foto paket sebelum dikirim, dan riwayat chat yang jelas soal alamat. Panduan paket hilang tanggung jawab siapa menjelaskan siapa yang menanggung apa dalam kasus mana, dan kenapa jawabannya berubah tergantung siapa yang memilih ekspedisinya.
Empat langkah, urut, dan totalnya bisa selesai dalam satu sore.
Kalau setelah sebulan kamu masih menghabiskan lebih dari satu jam sehari untuk menjawab "berapaan kak", masalahnya bukan kamu kurang rajin. Harganya masih belum kelihatan.
Ditulis oleh
Sailo team
Satu tautan, seluruh toko Anda.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Sailo hanya memberinya pintu depan — supaya orang bisa melihat-lihat, membandingkan, dan tahu harga sebelum mengirim pesan ke Anda.
Ambil tautan AndaGratis selama beta · Tanpa kartu