Cahaya dulu, kamera belakangan. Jam berapa memotret, empat setelan yang diubah sekali, dan lima foto per produk yang menutup pertanyaan sebelum ditanya.
Sailo team11 menit baca
Di galeri HP fotonya bagus. Begitu masuk ke katalog, warnanya kusam dan barangnya kelihatan lebih murah dari harganya.
Yang salah hampir nggak pernah kameranya. Yang salah cahayanya, dan cahaya diperbaiki dengan memindahkan meja, bukan dengan mengganti HP.
Aturan intinya muat dalam satu paragraf. Foto di dekat jendela, pagi hari, tanpa sinar matahari langsung mengenai barangnya. Matikan lampu ruangan. Matikan flash. Kunci fokus dan kecerahan dengan menekan lama di layar. Satu alas, satu latar, dipakai untuk semua produk. Sisa artikel ini soal cara memilih lima foto per produk supaya orang berhenti bertanya "ukurannya berapa kak".
Ayu menjual tas anyaman rotan di Denpasar, Rp 220.000 per buah. Setelah dia mengulang foto sembilan produk terlarisnya dalam satu pagi, pertanyaan soal ukuran di chat-nya turun drastis, dan itu penghematan waktu yang lebih terasa daripada tambahan penjualannya.
HP kelas menengah keluaran lima tahun terakhir sudah lebih dari cukup untuk foto produk. Yang membedakan foto yang bagus dan yang kusam ada tiga hal, dan ketiganya soal cahaya.
Jumlah cahaya. Kurang cahaya berarti HP menaikkan ISO, dan ISO tinggi berarti bintik-bintik dan warna yang meleset. Kamu nggak bisa memperbaiki ini di edit.
Arah cahaya. Cahaya dari depan bikin barang rata dan membosankan. Cahaya dari samping memunculkan tekstur, dan untuk barang seperti anyaman, kain, kue, atau kulit, tekstur itu justru barang dagangannya.
Kualitas cahaya. Matahari langsung jam sebelas siang di Indonesia itu keras. Bayangannya tajam dan hitam pekat, dan warnanya menyimpang. Cahaya jendela yang nggak langsung itu lembut, dan lembut hampir selalu lebih menjual.
Jendela yang menghadap ke arah tanpa matahari langsung pada jam kamu memotret adalah studio gratis. Kalau matahari menembus langsung, gantung kain putih tipis atau tirai tipis di jendela. Itu mengubah cahaya keras jadi lembut dalam sepuluh detik.
Ini keputusan yang lebih menentukan daripada semua setelan kamera digabung.
Yang bekerja: jam delapan sampai jam sepuluh pagi. Cahayanya banyak, arahnya rendah, dan belum sekeras tengah hari.
Yang nggak bekerja: jam sebelas sampai jam dua. Matahari di atas kepala, bayangan pendek dan keras, dan kalau kamu memotret di teras, semuanya jadi kelewat terang di satu sisi dan hitam di sisi lain.
Sore antara jam empat dan setengah enam bisa bagus, tapi warnanya bergeser kuning dengan cepat. Ini kesalahan yang bikin saya kehilangan satu hari penuh: saya pernah memotret tiga puluh produk mulai jam tiga sore sampai jam lima, dan foto produk pertama dan produk terakhir punya warna yang jelas berbeda. Di katalog, hasilnya kelihatan seperti dua toko yang berbeda. Semuanya harus diulang.
Foto semua produk dalam satu jendela waktu yang sama. Kalau nggak selesai, lanjutkan besok pada jam yang sama, di tempat yang sama. Konsistensi antar foto jauh lebih penting daripada satu foto yang sempurna.
Kalau kamu jual makanan atau minuman dan harus memotret sore, catat satu hal: es mencair, gorengan kehilangan uapnya dalam dua menit, dan warna makanan berubah lebih cepat dari yang kamu kira. Siapkan semuanya dulu, potret terakhir.
Ini masalah yang spesifik di rumah-rumah Indonesia dan penyebab sebagian besar foto yang warnanya "aneh tapi nggak tahu kenapa".
Lampu rumah kebanyakan warnanya hangat, kekuningan. Cahaya jendela warnanya netral, cenderung biru. Kalau keduanya menyala bersamaan, HP kamu bingung dan memilih di tengah, dan hasilnya kain putihmu jadi krem dan kain krem jadi kuning.
Solusinya gratis: matikan semua lampu ruangan waktu memotret dekat jendela. Ruangan akan terasa lebih gelap ke matamu, tapi HP-nya justru lebih benar.
Kalau kamu terpaksa memotret malam, jangan campur. Pakai satu jenis sumber cahaya saja, satu lampu belajar putih misalnya, dan tempelkan kertas HVS di depannya untuk melembutkan. Hasilnya nggak sebagus jendela, tapi konsisten, dan konsisten itu yang bisa kamu perbaiki di edit.
Buka pengaturan kamera, ubah empat ini, lupakan selamanya.
| Setelan | Ubah jadi | Alasan |
|---|---|---|
| Flash | Mati | Flash HP bikin bayangan keras dan pantulan putih di barang mengkilap |
| Garis bantu atau grid | Nyala | Bikin kamu meletakkan barang di tempat yang benar tanpa berpikir |
| Rasio foto | 4:5 atau 1:1 | Ini yang dipakai katalog dan Instagram, jadi kamu nggak kehilangan bagian atas |
| Mode potret atau bokeh | Mati untuk foto produk utama | Latar buram menyembunyikan detail, dan detail yang dibeli orang |
Satu gerakan tambahan yang bukan setelan tapi lebih penting dari semuanya: tekan lama di layar, di bagian produk, sampai fokus terkunci. Lalu geser jarimu ke atas atau ke bawah untuk mengatur terang gelapnya. Kebanyakan HP membuat foto sedikit terlalu gelap kalau latarnya putih, jadi biasanya kamu perlu menaikkannya sedikit.
Jangan pakai zoom digital. Maju, jangan zoom. Zoom digital memotong resolusi dan hasilnya kelihatan waktu foto dilihat besar.
Beli sekali, pakai setahun. Total di bawah lima puluh ribu di toko ATK.
Satu, kertas karton putih ukuran besar. Lengkungkan dari meja ke dinding sehingga nggak ada garis sudut. Ini latar netral untuk semua produk, dan yang bikin katalogmu terlihat seperti satu toko.
Dua, satu permukaan bertekstur. Kayu, kain linen, atau untuk produk Bali seperti punya Ayu, anyaman kasar atau batu. Ini untuk foto suasana, bukan foto utama.
Dan satu benda yang bukan latar tapi mengubah hasil lebih dari keduanya: kertas putih A3 sebagai pemantul. Taruh di sisi berlawanan dari jendela, miring menghadap produk. Bayangan yang tadinya hitam pekat jadi abu-abu lembut. Ini trik studio yang paling murah dan paling sering dilewati.
Yang harus dihindari: latar bermotif, meja kayu gelap yang mengambil warna produkmu, dan kain kusut. Kusut kelihatan sekali di foto, jauh lebih jelas daripada di mata.
Urutannya bekerja karena tiap foto menjawab satu pertanyaan yang akan datang ke chat-mu.
Kalau kamu cuma sanggup dua, ambil nomor satu dan nomor dua.
Foto kedua itu yang paling sering menentukan. Bukan foto pertama. Foto pertama membuat orang berhenti, tapi foto skala yang membuat orang berani. Untuk barang yang ukurannya sering disalahpahami, tas, botol, kue kering, perhiasan, foto di tangan menghilangkan lebih banyak keraguan daripada tiga paragraf deskripsi.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Edit di aplikasi bawaan HP sudah cukup. Tiga penyetelan ini, urut.
Kecerahan. Naikkan sedikit sampai putihnya benar-benar putih, berhenti sebelum detailnya hilang.
Suhu warna. Kalau fotomu kekuningan, geser ke biru sedikit. Kalau kebiruan, sebaliknya. Cara mengeceknya: lihat bagian yang kamu tahu warnanya putih di dunia nyata. Kalau itu putih di layar, warnamu benar.
Ketajaman. Sedikit saja. Ketajaman berlebihan bikin tepi barang punya garis putih dan hasilnya kelihatan murah.
Yang jangan dipakai: filter, saturasi maksimal, dan vignette. Warna produk yang nggak sesuai aslinya adalah penyebab langsung komplain dan retur, dan komplain warna itu yang paling susah dibantah karena pembeli memegang bukti fisiknya.
Satu aturan tambahan yang menghemat waktu: edit satu foto sampai benar, lalu salin penyetelannya ke foto lain dari sesi yang sama. Sebagian besar aplikasi galeri bisa melakukan ini.
Ini sering diabaikan dan menyebabkan foto yang bagus tampil buruk.
Di marketplace, fotomu tampil sangat kecil di antara puluhan foto lain, dan sebagian besar kompetitormu memakai latar putih. Di sana, produk harus besar dalam bingkai dan latar bersih menang. Di katalogmu sendiri, fotonya tampil lebih besar dan nggak ada yang bersaing, jadi foto suasana justru bekerja lebih baik.
Ambil keduanya di sesi yang sama. Satu versi rapat dengan latar putih, satu versi dengan ruang dan suasana. Dua puluh detik tambahan per produk, dan kamu punya bahan untuk kedua tempat. Kalau kamu masih memutuskan mau berjualan di mana, perbandingan jualan di marketplace atau toko sendiri membahas apa yang masing-masing berikan dan apa yang diambilnya.
Empat jenis barang yang bikin orang mengira HP-nya kurang bagus, padahal masalahnya di bahan.
Barang mengkilap. Perhiasan, botol kaca, plastik bening, panci. Permukaannya memantulkan seluruh ruangan, termasuk kamu. Solusinya bukan mengurangi cahaya, tapi memperbesar sumbernya: potret lebih jauh dari jendela dengan tirai tipis, dan berdiri di luar garis pantulan. Baju gelap membantu, karena bajumu yang muncul di pantulan itu.
Barang hitam. HP akan menaikkan kecerahan sampai hitamnya jadi abu-abu. Turunkan kecerahan manual setelah mengunci fokus, dan pakai latar abu-abu terang, bukan putih. Latar putih memaksa kamera memilih antara latar dan produk, dan produkmu yang kalah.
Barang bening. Air, minyak, madu, botol kaca isi. Yang membuatnya terlihat bukan cahaya dari depan, tapi cahaya dari belakang. Taruh produknya di depan jendela, bukan di samping jendela, lalu pakai kertas pemantul di depan supaya labelnya tetap terbaca.
Makanan berkuah atau berminyak. Ini balapan dengan waktu. Siapkan bingkai, alas, dan fokus dulu memakai piring kosong, baru sajikan makanannya dan potret dalam dua menit pertama. Setelah itu, minyaknya beku dan uapnya hilang.
Nomor lima itu yang paling sering menyakiti penjual kerajinan dan makanan rumahan, karena produknya memang nggak identik tiap batch. Solusinya bukan foto sempurna. Solusinya satu kalimat di deskripsi: "Karena dianyam tangan, motif tiap tas sedikit berbeda." Kejujuran seperti itu mencegah lebih banyak komplain daripada foto mana pun.
Foto yang dikirim pembeli setelah barangnya sampai punya kredibilitas yang nggak bisa kamu buat sendiri, seberapa bagus pun kameramu.
Cara mendapatkannya: minta, dengan alasan yang jelas, beberapa hari setelah paket diterima. "Kalau berkenan, boleh kirim satu foto tasnya waktu dipakai? Saya tampilkan di halaman produk dengan nama depan saja." Sekitar satu dari lima orang akan mengirim, dan itu cukup.
Di Sailo, pembeli bisa meninggalkan nama, bintang 1 sampai 5, dan tulisan pada produk, di semua paket termasuk yang gratis, dan nggak ada yang tampil sebelum kamu setujui. Yang perlu kamu putuskan sendiri adalah seberapa jujur kamu memakai kontrol itu. Halaman yang isinya bintang lima semua bikin curiga. Satu ulasan empat bintang yang menyebut kekurangan kecil justru menaikkan kepercayaan pada semua ulasan lainnya.
Dan batasan yang perlu disebut supaya harapanmu benar: Sailo menampilkan fotomu, bukan memperbaikinya. Foto gelap tetap gelap di halaman produk. Di paket gratis kamu juga dibatasi 10 produk, jadi kalau kamu punya enam puluh SKU, kamu memilih dulu atau naik paket.
Jangan potret semuanya. Potret yang menghasilkan.
Ganti foto lima produk itu hari ini juga. Kalau setelah dua minggu chat yang menanyakan ukuran berkurang, kamu tahu foto skalanya bekerja, dan kamu bisa mengulang proses ini untuk lima produk berikutnya.
Foto yang bagus tetap nggak mendatangkan siapa-siapa dengan sendirinya. Foto membuat orang yang sudah melihat jadi mau beli. Untuk urusan membuat orang melihat, cara dapat pembeli pertama online membahas dari mana orang pertama biasanya benar-benar datang. Dan kalau kamu masih menyusun tempat foto-foto ini akan tinggal, mulai dari cara jualan online tanpa website.
Ditulis oleh
Sailo team
Satu tautan, seluruh toko Anda.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Sailo hanya memberinya pintu depan — supaya orang bisa melihat-lihat, membandingkan, dan tahu harga sebelum mengirim pesan ke Anda.
Ambil tautan AndaGratis selama beta · Tanpa kartu