Berat volume, zona, tarif flat, dan ambang gratis ongkir. Cara menaruh angka yang menutup biaya asli tanpa bikin pembeli kabur di halaman total.
Sailo team11 menit baca
Kamu tulis ongkir Rp 20.000. Di loket ekspedisi keluar angka Rp 46.000. Ordernya Rp 165.000, jadi sore itu kamu kerja buat ekspedisi.
Ongkir dihitung dari yang lebih besar antara berat asli dan berat volume, di dalam satu zona tujuan. Itu seluruh mekanismenya. Sisanya keputusanmu: berapa yang kamu bebankan ke pembeli dan berapa yang kamu telan sendiri. Dua-duanya nggak bisa dikerjakan benar tanpa daftar tarif ekspedisimu di tangan, dan daftar itu diminta, bukan ditebak.
Bagas jual lampu hias rotan di Yogyakarta. Harganya Rp 165.000, ringan, dan besar sekali. Produk itu yang paling laku dan paling sering bikin dia rugi, karena lampu rotan beratnya nggak sampai satu kilo tapi kardusnya seukuran galon.
Ekspedisi menjual ruang, bukan berat. Yang habis duluan di dalam mobil bak atau di pesawat kargo adalah volume, bukan tonase. Makanya mereka pakai berat volume.
Rumusnya selalu berbentuk sama:
berat volume = (panjang x lebar x tinggi dalam cm) / pembagi
Lalu kamu ditagih berdasarkan yang lebih besar antara angka itu dan berat aslinya di timbangan.
Pembaginya yang harus kamu tanya. Angkanya berbeda antar ekspedisi, dan sering berbeda antara layanan darat, reguler, dan udara di ekspedisi yang sama. Jangan pakai angka dari blog mana pun, termasuk artikel ini. Minta tertulis, karena selisih antara satu pembagi dan pembagi lain bisa berarti seperempat dari biaya kirimmu.
Kardus lampu Bagas: 35 x 35 x 45 cm. Berat aslinya 0,9 kg.
| Pembagi | Berat volume | Yang ditagih |
|---|---|---|
| 4.000 | 13,8 kg | 14 kg |
| 5.000 | 11,0 kg | 11 kg |
| 6.000 | 9,2 kg | 10 kg |
Barang seberat sembilan ons ditagih sepuluh sampai empat belas kilo. Itu bukan kesalahan ekspedisi. Itu memang cara kerjanya, dan itu sebabnya tarif pertama Bagas, yang dia hitung dari timbangan dapur, salah sejak hari pertama.
Perhatikan kolom terakhir. Banyak ekspedisi membulatkan ke atas per kilogram, jadi 9,2 kg dibayar sebagai 10 kg. Tanyakan apakah ekspedisimu membulatkan, dan pada kelipatan berapa. Untuk barang di sekitar batas kilo, pembulatan bisa menambah satu kilo penuh di tiap paket.
Kesalahan paling mahal bukan salah tarif. Kesalahan paling mahal adalah menghitung dari kardus yang salah.
Ukur kardus setelah dilakban, setelah diisi bubble wrap, dan setelah ditambahi lapisan luar kalau kamu memakainya. Bubble wrap itu persis yang mengubah kardus 30 cm jadi 36 cm, dan enam sentimeter di satu sisi dikalikan dua sisi lain di dalam rumus.
Ukur juga bagian yang menonjol. Tutup yang nggak rata, gagang, sudut yang menggembung. Di loket, petugas mengukur dari luar dengan meteran, bukan menebak.
Dan satu hal yang bikin banyak orang tertipu angkanya sendiri: kalau kamu menghitung ongkir untuk satu kardus lalu ternyata barangnya butuh dua kardus, biayamu bukan naik dua kali, tapi lebih. Dua kardus kecil hampir selalu lebih mahal dari satu kardus besar dengan volume total yang sama, karena tiap paket punya biaya minimumnya sendiri. Cek ini sebelum kamu bikin promo beli dua.
Kamu nggak perlu meniru tabel tarif ekspedisi yang punya ratusan baris. Kamu perlu tiga sampai empat kelompok yang bisa kamu ingat dan yang nggak bikin kamu rugi di kelompok mana pun.
Untuk penjual yang berbasis di Jawa, bentuk yang masuk akal:
| Zona | Isi | Cara menetapkan tarif |
|---|---|---|
| Dalam kota | Kotamu dan sekitarnya | Tarif termurah, sering pakai kurir instan |
| Jawa | Seluruh pulau Jawa | Ambil tarif kota Jawa termahal yang kamu kirimi |
| Luar Jawa | Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali | Ambil tarif termahal di kelompok ini |
| Timur dan terpencil | Papua, Maluku, dan daerah sulit akses | Hitung per kasus, jangan disamakan |
Aturannya: untuk tiap zona, pakai tarif kota termahal di dalamnya, bukan rata-ratanya. Kalau kamu pakai rata-rata, kamu untung di kota dekat dan rugi di kota jauh, dan yang jauh selalu lebih sering dari yang kamu kira.
Baris terakhir jangan digabung ke "luar Jawa". Pengiriman ke sebagian daerah timur bisa berlipat, dan satu order seperti itu bisa menghapus untung sepuluh order lain. Untuk zona itu, tulis "hubungi kami untuk ongkir" dan hitung manual. Nggak apa-apa kehilangan sedikit kecepatan di zona yang ordernya dua kali setahun.
Nggak ada yang paling benar. Yang ada, yang paling cocok dengan bentuk produkmu.
Ongkir per zona. Kamu pasang tarif per kelompok tujuan. Paling adil, paling akurat, dan paling banyak kolom yang harus kamu isi. Cocok kalau produkmu ukurannya seragam.
Tarif flat. Satu angka untuk semua tujuan. Mudah dimengerti pembeli, dan kamu menang di kota dekat sambil rugi di kota jauh. Ini bekerja kalau sebagian besar ordermu datang dari zona yang sama, dan berhenti bekerja begitu kamu mulai laku di luar pulau.
Ongkir dibayar penuh oleh pembeli, dihitung saat konfirmasi. Kamu tulis "ongkir menyesuaikan alamat", lalu hitung di chat. Nol risiko buatmu, tapi menambah dua pesan di tiap percakapan dan membuat sebagian orang batal karena nggak tahu totalnya. Kalau kamu memakai ini, siapkan balasan cepat supaya nggak mengetik ulang, seperti yang dibahas di cara jualan lewat WhatsApp.
Ongkir dimasukkan ke harga barang. "Gratis ongkir" yang sebenarnya sudah kamu titipkan di harga jual. Paling mulus buat pembeli. Bahayanya kamu jadi mahal di mata orang yang membandingkan harga barang saja, dan di marketplace itu sering fatal.
Ambang gratis ongkir menaikkan nilai belanja per orang, dan ini salah satu tuas paling cepat yang kamu punya. Tapi angkanya sering ditetapkan asal.
Cara menetapkannya yang tidak asal: hitung dari margin barang termurah yang bisa mencapai ambang itu, bukan dari rata-rata ordermu.
Contoh dengan angka Bagas. Kalau ambangnya Rp 300.000, kombinasi termurah yang mencapai angka itu bisa jadi dua lampu Rp 165.000 dengan diskon, atau lima produk kecil bermargin tipis. Kalau ongkir ke luar Jawa untuk paket sebesar itu Rp 70.000 dan margin gabungannya cuma Rp 90.000, ambangnya kerendahan.
Naikkan ambangnya sampai margin di kombinasi terburuk masih menutup ongkir zona termahal, dengan sisa. Kalau angkanya jadi terlalu tinggi sampai nggak ada yang mencapainya, batasi gratis ongkirnya per zona. Gratis ongkir untuk Jawa saja itu jujur, mudah dimengerti, dan menyelamatkanmu dari paket ke Jayapura.
Gratis ongkir bukan diskon. Itu biaya tetap yang kamu bayar tiap paket, dan satu-satunya cara menutupnya adalah nilai belanja naik lebih besar dari biaya itu.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Empat pos ini rutin terlewat waktu orang menghitung ongkir, dan totalnya bisa lebih besar dari selisih tarif antar ekspedisi.
Tambahkan pos kelima kalau kamu memakai jemput barang di rumah: sebagian layanan itu gratis di atas jumlah paket tertentu dan berbayar di bawahnya.
Selisih beberapa ribu rupiah per paket terlihat penting sampai kamu menghitung apa yang kamu bayar dengan hal lain.
Empat hal yang lebih menentukan daripada tarif:
Jarak agen dari rumahmu. Kalau agen termurah 20 menit lebih jauh dan kamu ke sana tiap hari, kamu membayar selisih itu dengan waktu, bensin, dan hari-hari waktu kamu malas jadi paket telat sehari.
Jam tutup penerimaan. Agen yang menerima sampai jam delapan malam mengubah janji pengirimanmu. Kamu bisa bilang "order sebelum jam lima dikirim hari ini" dan menepatinya, dan itu bernilai lebih dari selisih tarif.
Konsistensi timbangan. Timbangan di agen kecil dan di kantor cabang kadang memberi angka berbeda untuk kardus yang sama, dan yang lebih sering berbeda adalah cara mengukur dimensi. Kirim satu paket contoh ke dua tempat, catat angkanya, dan kamu tahu mana yang bisa kamu pakai untuk menghitung harga.
Apakah mereka mau jemput. Sekali bisnismu di atas sepuluh paket sehari, layanan jemput di rumah menghemat lebih dari satu jam per hari.
Pakai dua ekspedisi, bukan satu, dan bukan lima. Satu untuk mayoritas kiriman, satu cadangan untuk hari-hari waktu yang pertama bermasalah atau tujuannya nggak terjangkau. Lima ekspedisi berarti lima format resi, lima cara klaim, dan kamu nggak pernah hafal aturan satu pun.
Setelah dia minta daftar tarif dan mengukur kardus yang benar, gambarnya berubah.
Lampu rotan Rp 165.000. Modal Rp 88.000. Kemasan Rp 11.000, karena barangnya rapuh dan butuh bubble wrap tebal. Margin sebelum ongkir Rp 66.000.
Berat tertagih 11 kg dengan pembagi yang dipakai ekspedisinya. Untuk zona Jawa itu masih aman. Untuk luar Jawa, tarif 11 kg lebih besar dari marginnya sendiri.
Tiga perubahan yang dia lakukan, dan cuma yang pertama yang benar-benar besar:
Satu, dia mendesain ulang kardusnya. Lampu itu bisa dikirim tanpa rangka bawah terpasang, dan pembeli memasangnya dengan dua sekrup. Kardusnya turun dari 35 x 35 x 45 jadi 35 x 35 x 22. Berat volumenya turun separuh, dan itu memindahkan produknya dari kategori rugi ke kategori untung di semua zona. Instruksi pemasangan satu lembar dia cetak dan masukkan ke dalam kardus.
Dua, dia pisahkan tarif Jawa dan luar Jawa. Sebelumnya satu tarif flat Rp 25.000 untuk semua tujuan. Sekarang dua angka, dan yang luar Jawa dia bulatkan ke atas.
Tiga, gratis ongkir dia batasi ke Jawa saja, di atas Rp 350.000. Nilai belanja rata-ratanya naik, dan dia berhenti mengirim paket besar ke Manado dengan ongkir yang dia tanggung sendiri.
Yang paling banyak menghemat bukan tarifnya. Kardusnya.
Di Sailo, ongkir adalah angka yang kamu ketik sendiri. Kamu membuat opsi pengiriman, memberinya nama yang dilihat pembeli seperti "Reguler Jawa" atau "Ambil di tempat", mengisi tarifnya, dan boleh menetapkan batas nominal di mana pengiriman jadi gratis. Ada juga jenis ambil sendiri, dengan kolom alamat dan jam buka, plus catatan bebas untuk perkiraan waktu seperti "2 sampai 3 hari kerja".
Batasannya, dan ini penting sebelum kamu memutuskan: Sailo nggak menarik tarif langsung dari ekspedisi. Nggak ada perhitungan otomatis per kecamatan, nggak ada berat volume yang dihitung sendiri, dan Sailo nggak tahu resimu ada di mana. Angka yang muncul ke pembeli adalah angka yang kamu tetapkan. Kalau bisnismu sudah di titik di mana kamu butuh tarif hidup per alamat, itu pekerjaan alat lain, dan biasanya artinya volumemu sudah cukup besar untuk membayarnya.
Kalau kamu juga berjualan di marketplace, perhatikan satu hal: subsidi gratis ongkir di sana ditanggung platform, bukan olehmu, jadi pembeli yang terbiasa di sana akan merasa ongkirmu mahal padahal itu ongkir sebenarnya. Perbandingan jualan di marketplace atau toko sendiri membahas selisih itu dan apa yang bisa kamu lakukan soal persepsi harganya.
Kalimat ongkir yang buruk memicu chat. Kalimat ongkir yang baik menutupnya.
Buruk: "Ongkir menyesuaikan."
Baik:
Ongkir Jawa Rp 25.000, gratis untuk belanja di atas Rp 350.000.
Ongkir luar Jawa Rp 55.000.
Untuk Papua, Maluku, dan daerah terpencil, chat dulu ya, kami hitungkan.
Dikirim H+1, kecuali order masuk hari Minggu.
Empat baris, dan tiga pertanyaan paling sering sudah terjawab sebelum ditanya.
Kalau setelah itu ternyata satu produkmu memang nggak masuk akal dikirim jauh, jangan naikkan harganya untuk semua orang. Batasi zonanya. Dan kalau kamu masih menyusun keseluruhan alur jualanmu, cara jualan online tanpa website menaruh ongkir di tempatnya sebagai satu dari tiga keputusan yang harus kamu ambil di awal.
Ditulis oleh
Sailo team
Satu tautan, seluruh toko Anda.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Sailo hanya memberinya pintu depan — supaya orang bisa melihat-lihat, membandingkan, dan tahu harga sebelum mengirim pesan ke Anda.
Ambil tautan AndaGratis selama beta · Tanpa kartu