Lima order pertama hampir selalu datang dari orang yang sudah kenal kamu. Sepuluh pesan yang harus kamu kirim, dan kenapa iklan belum saatnya sekarang.
Sailo team11 menit baca
Link sudah dipasang di bio. Tiga hari, 41 orang mengklik, nol yang beli.
Yang salah bukan produkmu dan belum tentu harganya. Yang salah asumsinya: kamu berharap orang asing membeli dari toko yang belum punya satu pun bukti bahwa ada orang lain pernah membeli.
Pembeli pertama hampir selalu datang dari orang yang sudah kenal kamu. Bukan dari iklan, bukan dari algoritma, bukan dari hashtag. Sepuluh pesan pribadi ke orang yang namanya kamu tahu menghasilkan lebih banyak daripada satu broadcast ke tiga ratus nomor, dan bedanya bukan sedikit.
Fajar menjual kopi bubuk Sidikalang di Medan, Rp 65.000 per 250 gram. Empat order pertamanya semuanya orang yang dia kenal namanya. Order kelima datang dari teman order kedua. Itu bukan kecurangan dan bukan tanda bisnisnya lemah. Itu bentuk normal dari empat minggu pertama, dan penjual yang menolak menerimanya biasanya menghabiskan tiga bulan menunggu orang asing yang nggak pernah datang.
Orang membeli dari orang yang mereka percaya. Di awal, kamu punya nol kepercayaan dari orang asing dan cukup banyak dari orang yang kenal kamu. Mulai dari yang kamu punya.
Ada alasan kedua yang lebih praktis. Sepuluh pembeli pertama bukan cuma sumber uang. Mereka sumber informasi yang nggak bisa kamu beli:
Kalau sepuluh pembeli pertamamu orang asing, tiap kesalahan di daftar itu jadi ulasan buruk. Kalau mereka orang yang kenal kamu, tiap kesalahan jadi masukan dan mereka tetap beli lagi.
Ini langkah pertama dan yang paling banyak dihindari orang karena rasanya nggak enak.
Buka kontak HP-mu. Tulis sepuluh nama. Bukan seratus. Sepuluh orang yang, kalau kamu pikirkan sungguh-sungguh, benar-benar mungkin butuh atau suka produkmu.
Kirim sepuluh pesan terpisah. Satu per satu, diketik ulang tiap kali, menyebut alasan spesifik kenapa kamu mengirim ke dia.
Yang bekerja:
"Mas Andi, saya mulai jual kopi Sidikalang gilingan sendiri. Ingat waktu kamu bilang kopi di kantor payah? Saya kirimin 250 gram, Rp 65.000, gratis ongkir dalam kota Medan. Mau coba?"
Yang nggak bekerja:
"Hai semua! Aku buka usaha baru nih, kopi Sidikalang asli. Yuk diorder ya, link di bio."
Yang kedua dikirim ke tiga ratus orang dan dijawab nol. Bukan karena produknya jelek. Karena pesan itu jelas nggak ditujukan ke siapa pun, jadi nggak ada yang merasa ditanya.
Perbandingan yang realistis dari sepuluh pesan pribadi: sekitar enam sampai delapan dibalas, dua sampai empat jadi beli, dan satu atau dua meneruskan ke orang lain. Itu bukan janji, itu urutan besaran yang wajar. Dari satu broadcast ke tiga ratus, kamu bisa mendapat nol dan itu juga wajar.
Jangan kirim broadcast di minggu pertama. Broadcast berguna nanti, waktu kamu punya sesuatu untuk diumumkan ke orang yang sudah pernah beli. Di minggu pertama, broadcast cuma membakar daftar kontakmu untuk hasil nol.
Empat pola yang sering muncul dan efeknya berlawanan dengan yang kamu mau.
Minta tolong. "Tolong dibantu ya usahaku." Ini mengubah transaksi jadi sedekah. Orang mungkin beli sekali karena kasihan, lalu nggak pernah lagi, dan kamu nggak belajar apa pun tentang produkmu.
Minta maaf duluan. "Maaf ganggu ya, kalau nggak minat nggak apa-apa kok." Kamu sudah memberi jalan keluar sebelum dia sempat mempertimbangkan.
Sebut semuanya sekaligus. Sembilan varian, tiga ukuran, dua paket bundling, di pesan pertama. Orang yang diberi sembilan pilihan memilih nol.
Nggak menyebut harga. "Cek DM untuk harga" di pesan ke orang yang kamu kenal itu aneh, dan di postingan publik itu mahal. Cara jualan online tanpa website membahas kenapa harga yang disembunyikan adalah kebocoran pembeli terbesar yang bisa kamu tutup gratis.
Satu produk, satu harga, satu pertanyaan penutup. Itu bentuk pesan pertama yang bekerja.
Grup WhatsApp alumni, grup RT, grup arisan, grup kantor, grup orang tua murid. Kamu sudah ada di dalamnya dan itu satu-satunya kualifikasi yang dibutuhkan.
Aturan yang membedakan jualan di grup yang diterima dan yang bikin kamu di-mute:
Grup RT dan grup kompleks sering diremehkan dan sering jadi sumber pembeli ulang terbaik, karena ongkirnya nol dan orangnya melihatmu tiap minggu.
Sepuluh pesan pribadi membuat orang membuka linkmu. Yang terjadi setelah itu ditentukan foto dan harga, bukan tulisan.
Untuk pembeli pertama, ada satu foto yang lebih penting dari yang lain: foto yang menunjukkan ukuran. Orang yang belum pernah membeli darimu nggak punya bayangan seberapa besar 250 gram kopi itu, atau seberapa besar tas anyamanmu. Foto produk di tangan menghilangkan keraguan itu tanpa satu kata pun. Cara foto produk pakai HP menjelaskan lima foto per produk dan kenapa foto kedua yang menentukan.
Dan pastikan harganya kelihatan. Bukan di balasan chat, di halaman.
Masalah ayam dan telur: orang beli kalau ada yang sudah beli, tapi belum ada yang beli.
Empat cara keluar dari situ tanpa berbohong.
Tunjukkan proses, bukan hasil. Kopi yang lagi disangrai, timbangan digital dengan angkanya, paket yang lagi dilakban. Proses membuktikan bahwa ini nyata dan dikerjakan orang sungguhan. Ini lebih meyakinkan daripada testimoni yang belum kamu punya.
Tunjukkan jumlah, bukan persentase. "Batch minggu ini 18 bungkus, sisa 4" jauh lebih kuat dari "banyak yang sudah pesan". Angka kecil yang jujur lebih dipercaya daripada angka besar yang samar.
Minta ulasan dari empat pembeli pertama, dengan permintaan yang spesifik. Bukan "kasih testimoni ya", tapi "boleh tulis satu kalimat soal rasanya dibanding kopi yang biasa kamu minum?" Pertanyaan spesifik menghasilkan jawaban yang berguna.
Pasang wajahmu. Penjual kecil yang menunjukkan siapa dirinya menang atas toko anonim, terutama untuk makanan. Satu foto kamu di dapur atau di tempat sangrai mengerjakan pekerjaan yang nggak bisa dikerjakan sepuluh foto produk.
Di Sailo, pembeli bisa meninggalkan nama, bintang 1 sampai 5, dan tulisan pada sebuah produk, dan itu tersedia di semua paket termasuk yang gratis. Nggak ada yang tampil sebelum kamu menyetujuinya. Kontrol itu berguna, dan juga gampang disalahgunakan. Halaman yang isinya bintang lima semua terbaca palsu oleh pembeli Indonesia yang sudah terbiasa membaca ulasan marketplace. Biarkan satu ulasan empat bintang tampil, dan semua ulasan lainnya jadi lebih dipercaya.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Untuk produk fisik, terutama makanan dan kerajinan, jalur ini sering menghasilkan lebih cepat dari semua konten yang kamu buat.
Titip di warung, kedai kopi, atau toko oleh-oleh. Bawa sepuluh bungkus, sepakati bagi hasil, tinggalkan kartu kecil dengan nomor WhatsApp-mu di tiap bungkus. Yang kamu cari bukan penjualannya. Yang kamu cari orang yang menghubungi nomor itu untuk membeli lagi langsung darimu.
Bazar dan pasar akhir pekan. Mahal per hari dan melelahkan, tapi kamu mendapat sesuatu yang nggak bisa didapat online: melihat wajah orang waktu mendengar harganya. Itu riset harga tercepat yang ada.
Kantor teman. Satu orang yang membawa produkmu ke kantornya bisa menghasilkan lima pembeli dalam seminggu, dan mereka semua orang yang bisa dikirimi ke satu alamat.
Untuk jalur ini, satu hal yang harus disiapkan sebelum berangkat: cara orang memesan lagi tanpa harus bertemu kamu. Kartu kecil dengan nomor WhatsApp dan satu link sudah cukup.
Ini bagian di mana artikel dari vendor iklan akan menyuruhmu pasang iklan. Saya nggak.
Iklan memperbesar apa yang sudah bekerja. Kalau yang kamu punya belum bekerja, iklan memperbesar ketidaktahuanmu dengan biaya per hari.
Tiga syarat sebelum iklan masuk akal:
Sebelum ketiganya ada, uang iklanmu lebih menghasilkan kalau dipakai untuk kemasan yang lebih rapi, atau untuk memberi sampel gratis ke sepuluh orang yang tepat.
Angka sebenarnya, karena bentuknya lebih berguna daripada nasihat.
Minggu 1. Kirim 12 pesan pribadi. Dibalas 9. Beli 4. Total Rp 260.000. Dua di antaranya minta dikirim ke kantor, dan dari situ dia sadar kemasannya terlalu besar untuk dibawa pulang naik motor.
Minggu 2. Kemasan diperkecil. Posting proses sangrai di status WhatsApp, empat hari berturut-turut. Masuk 3 order dari orang yang nggak dia hubungi, semuanya dari status. Total Rp 195.000.
Minggu 3. Titip 10 bungkus di dua kedai kopi kecil. Laku 6 dalam dua minggu. Dua orang menghubungi nomor di kartu, dan keduanya beli 500 gram, bukan 250. Pembeli dari titipan rata-rata belanja lebih besar, dan itu kejutan pertama yang mengubah cara dia menyusun harga.
Minggu 4. Pesan ke 4 pembeli minggu pertama, menanyakan mau isi ulang atau nggak. Tiga bilang iya. Satu di antaranya memesan 3 bungkus untuk dibagikan.
Total empat minggu: 20 penjualan, sekitar Rp 1.400.000 kotor, nol rupiah biaya iklan. Yang paling menghasilkan bukan konten. Pesan pribadi di minggu satu, dan pesan susulan di minggu empat.
Itu bagian yang paling sering dilewati orang: menghubungi kembali pembeli pertamamu adalah sumber order kedua yang paling murah, dan hampir semua orang lupa melakukannya.
Order pertama bukan garis finis. Itu awal dari daftar yang akan menghidupi bulan-bulan berikutnya.
Untuk tiap satu dari sepuluh order pertamamu, kerjakan tiga hal:
Kalau kamu mengerjakan ketiganya untuk sepuluh orang, kamu punya pekerjaan tetap untuk bulan kedua tanpa mencari satu pun orang baru.
Perlu jelas supaya harapanmu benar. Link toko nggak mendatangkan siapa-siapa. Sailo memberimu satu alamat, sailo.store/namakamu, aktif sejak kamu daftar, dan di dalamnya nggak ada trafik. Nggak ada orang yang mencari-cari di sana seperti orang mencari-cari di marketplace. Semua orang yang masuk ke linkmu masuk karena kamu yang membawanya, dari pesan, status, grup, kartu di dalam paket, atau mulut ke mulut.
Kalau kamu justru ingin berjualan di tempat yang pembelinya sudah ada di dalam, itu keputusan berbeda dengan pertukaran yang berbeda pula, dan jualan di marketplace atau toko sendiri membahasnya jujur di kedua arah.
Dua batasan lain yang relevan di awal. Paket gratis menyimpan data kunjungan 7 hari, jadi kamu nggak bisa membandingkan bulan ini dengan tiga bulan lalu sampai kamu naik paket. Dan pembayaran kartu butuh akun Stripe yang sudah disetujui, sementara Stripe mencantumkan Indonesia sebagai "preview" yang artinya undangan, bukan pendaftaran terbuka. Jadi jangan menyusun rencana yang bergantung pada tombol kartu. Untuk pembeli pertamamu, transfer dan COD sudah cukup, dan sebenarnya lebih dipercaya.
Kalau dari sepuluh nggak ada satu pun yang beli, itu informasi, bukan kegagalan. Tanyakan ke tiga yang membalas paling ramah apa yang membuat mereka ragu. Jawaban mereka biasanya menyebut harga, atau menyebut sesuatu yang nggak jelas dari fotomu. Keduanya bisa kamu perbaiki minggu ini juga.
Ditulis oleh
Sailo team
Satu tautan, seluruh toko Anda.
Satu email tentang harga, foto, pengiriman, dan cara dibayar. Tanpa iklan, tanpa basa-basi.
Sailo hanya memberinya pintu depan — supaya orang bisa melihat-lihat, membandingkan, dan tahu harga sebelum mengirim pesan ke Anda.
Ambil tautan AndaGratis selama beta · Tanpa kartu